Belajar Mencintai Negeri dari Sri Mulyani

Sri Mulyani
Sepak terjang Ibu dengan nama lengkap Sri Mulyani Indrawati ini memang sering bikin kita geleng-geleng kepala. Pada tahun lalu kita semua sempat dibuat kaget mendengar kabar bahwa Sri Mulyani kembali menjabat menjadi Menteri Keuangan. Padahal, dulu beliau pada jabatan yang sama sempat dikorbankan bahkan "dibuang". Bulan Juli 2016 lalu, Sri Mulyani secara resmi diboyong Presiden Jokowi ke Indonesia dan meninggalkan jabatan strategisnya di World Bank, gajinya jangan ditanya, turun drastis. Ah, mungkin memang nasionalismenya telah mengalahkan nafsu hartawi bahkan rasa sakit hati-nya.

Diawal tahun baru 2017, Ibu ini kembali memenuhi headline berita. 
Sri Mulyani dengan gagah berani memutuskan kontrak Indonesia dengan JP Morgan. 

Semua bermula dari riset yang dilakukan JP Morgan "Trump Forces Tactical Changes" kepada para investornya. Riset ini menggambarkan efek setelah terpilihnya om Donald sebagai Presiden Amerika yang ngebet menarik dana ke negaranya dengan pembangunan infrastruktur dan bagi hasil yang tinggi di sektor keuangan. Tapi tak hanya itu, JP Morgan juga men-downgrade peringkat surat utang atau obligasi Indonesia dari overweight jadi underweight alias turun dua peringkat. Perlu diketahui, JP Morgan Chase Bank telah diberikan privilege sebagai dealer utama penjual surat berharga negara (SBN).

Jadi JP Morgan ini maunya apa, pedagang kok malah jelek-jelekin barang dagangannya sendiri. Biar bisa beli SBN dengan harga murah terus dijual lagi? 

Wajarlah bila Sri Mulyani berang, pemerintah sedang getol-getolnya cari pendanaan untuk memajukan negara malah dipermainkan oleh mitra strategisnya sendiri. Pernah ngerasain lagi semangat-semangatnya pedekate sama cewek terus ditikung sama sahabat karib sendiri? Pasti kesalnya bukan main.

Bu Ani, begitu sapaan Sri Mulyani, seringkali dituduh liberal, kapitalis, bahkan antek asing hanya karena ia lulusan Amerika. Melihat track record Bu Ani selama ini, rasa-rasanya yang menuduh demikian pun tidak lebih nasionalis dibanding beliau. 

Terimakasih Ibu telah mengisi headline berita dengan berita positif, jujur saja kami bosan dengan portal berita yang isinya selalu tentang politisi yang sedang digebukin rame-rame oleh kelompok intoleran pemaksa kehendak. 

Terimakasih telah menunjukkan keberanian dan membuktikan bahwa Indonesia adalah negara berdaulat dan tidak boleh dianggap remeh oleh bangsa lain, bukanlah antek asing aseng oseng oseng seperti yang mereka selalu katakan di media sosial.
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id