Yuk Nabung Saham, Untung atau Buntung?

Yuk Nabung Saham!


Yuk Nabung Saham, akhir-akhir ini kita sering banget dengar campaign satu ini di berbagai media massa. Tapi seberapa banyak dari kalian yang masih gak paham apa maksudnya nabung saham ini? Eitss, tenang kawan. Mari kita kupas pelan-pelan bungkusan yang namanya nabung saham ini..

Menggunakan istilah 'Nabung Saham', Bursa Efek Indonesia atau IDX mencoba meyakinkan rakyat Indonesia untuk menjadi tuan di bursanya sendiri. Apa tujuannya? Karena investor yang berada di bursa kita selama ini banyak yang dimiliki oleh asing. Buktinya, sekali foreign atau investor asing menarik dananya di bursa maka bursa langsung negatif dan sebaliknya apabila ada capital inflow atau penambahan modal dari investor asing maka bursa langsung berwarna hijau alias positif. IDX sepertinya ingin sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan terhadap investor asing. Dan itu bagus..

Pemilihan kata 'nabung' dan bukan trading atau investasi menandakan bahwa ajakan ini bukan mengajak kita untuk nyemplung ke dalam bursa dan bertransaksi jual beli. Melainkan menanamkan uang kita untuk membeli saham-saham tertentu dan menabung atau menyimpannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika melihat data yang diberikan oleh IDX maka sekilas menyatakan bahwa menabung saham akan lebih menguntungkan dibandingkan menabung produk investasi lainnya. 


Apakah faktanya benar demikian? Tidak salah memang, investasi di saham itu untungnya memang bisa ugal-ugalan bahkan ada kalanya suatu saham mampu memberikan return 100% dalam waktu kurang dari sebulan. Namun istilah high risk - high return itu tetap berlaku bahkan sangat berlaku disini.

Saham sangat terkenal dengan volatility-nya, jangankan dalam hitungan hari bahkan dalam hitungan detik pun harga saham bisa naik ataupun turun. Sehingga dalam hari yang sama, bisa saja kita membeli atau menjual saham dengan harga yang berbeda dengan investor lainnya. Jika ternyata kebetulan kita membeli sebuah saham di level harga yang tinggi dan saham tersebut malah mengalami penurunan harga terus menerus, maka jangankan mengharap cuan yang banyak, tidak rugi besar saja sudah untung. 

Sebagai contoh, di bawah ini merupakan grafik harga saham dari MDRN atau PT. Modern Internasional Tbk, perusahaan yang menaungi perusahaan Seven Eleven dari 2009 hingga 2017:


Investor yang menabung saham MDRN di tahun 2009 dan menjualnya di tahun 2013 maka dipastikan akan memperoleh profit, namun yang mulai menabung saham ini di tahun 2013 dan masih menyimpannya hingga sekarang? Yap, dapat dipastikan akan mengalami kerugian yang sangat besar. Terlebih ketika fakta hari ini bahwa semua outlet Sevel sudah tidak lagi beroperasi karena kerugian yang dialami. 


Tidak hanya kerugian, namun saham yang dimiliki oleh investor sama sekali tidak bisa dijual. Dapat dilihat dari tabel bid-offer per tanggal 24 Juli 2017 diatas, tidak ada yang memasang harga Bid atau mau membeli saham perusahaan tersebut. 

Sehingga memiliki strategi ketika menabung saham menjadi sangat penting. Terutama dalam memilih perusahaan yang hendak dibeli sahamnya, diusahakan memilih perusahaan yang memiliki fundamental yang kuat sehingga meskipun harga saham mengalami kenaikan atau penurunan dalam jangka pendek namun tren jangka panjangnya kemungkinan besar akan mengalami kenaikan. Hindari perusahaan-perusahaan dengan saham gorengan karena bisa saja dalam jangka pendek kenaikannya luar biasa namun biasanya hal itu tidak akan bertahan lama. 

Melihat rekam jejak perusahaan dari laporan keuangan serta pemberitaan atas perusahaan tersebut selama ini dapat menjadi input yang sangat baik bagi investor sebelum membeli saham suatu perusahaan. 

Kalian dapat langsung kesini untuk menabung saham: yuk.nabungsaham.idx.co.id

Akhir kata, selamat menabung saham! 
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id