Mbah Google, Bayar Pajak!

Google Indonesia
Punten dalem sewu, Mbah Google. 

Aku bukannya tidak terimakasih nih sama mbah, udah dikasih akses blogging gratisan. Tapi aku ini beneran heran lho sama panjenengan mbah. Dapat penghasilan gede kok ndak mau bayar pajaknya? Alasannya apa sih mbah? 

Aku heran bener, mbah ini kan sosok yang dihormati disini. Semua orang disini panggil panjenengan ini mbah, panggilan untuk sosok yang dihormati. Tapi kenapa kok mbah tidak arif sama sekali? Kenapa tidak mau buka-bukaan soal penghasilannya si mbah? Malah terkesan mau tawar menawar pajak, emangnya beli cabe di pasar? Cabe aja sekarang gak bisa ditawar-tawar..

Tapi aku jauh lebih heran sama orang-orang yang belain Google. Kawan, kau bolehlah ketergantungan sama Google, ngerjain tugas sekolah/kuliah gampang tinggal copas, dan yang lainnya. Aku juga ketergantungan nih ngeblog pakai blogger-nya Google. Tapi kan yang jadi masalah adalah siapapun yang dapetin penghasilan disini ya mesti bayar Pajak juga dong. Staf biasa yang gajinya diatas PTKP 4,5 juta aja wajib dipotong pajak kok dari penghasilannya. Apalagi Google yang diindikasikan dapat trilyunan! 

Emangnya kamu rela kalo kamu yang cuma pegawai biasa dipajakin mulu tiap bulan, eh ada perusahaan raksasa yang penghasilannya berpangkat-pangkat (diatasnya berkali-kali) dari gajimu itu malah bebas dari pajak?

Ah, aku jadi kesal..

Mungkin ini yang banyak orang-orang gatau, disangkanya Google ini mbah-mbah baik hati yang semua layanannya free alias gratis..tis..tis... Kalo begitu, mereka makan apa dong? Mereka ini kan bukan yayasan amal. Banyak pegawainya yang harus digaji. Mereka ini jualannya lewat iklan digital. Suka nonton youtube? Ada iklan kan? Suka cari-cari info di blog? Ada iklan juga kan? Nah, dari sana itu si mbah Google ini dapat uangnya. 

Aku jadi ingin bahas soal BUT alias Bentuk Usaha Tetap, emang sih gak akan kayak kuliah Pajak Internasional-nya Bu Ning Rahayu dan Pak Iman Santoso, yaiyalah ilmunya aja beda jauh. Untuk definisi lengkap BUT kawan bisa lihat di Pasal 2 UU No. 36 Tahun 2008, Google aja bisa kayaknya. Tapi kira-kira garis besarnya ini begini, orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, tinggal di Indonesia tidak lebih dari 183 hari selama 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia untuk ngejalanin usaha dan melakukan kegiatan di Indonesia itu dapat ditetapkan sebagai BUT. Perlakuan pajaknya sama dengan Subjek Pajak Dalam Negeri. 

Google ini masuk tuh, karena walaupun disini hanya sebagai kantor perwakilan aja tapi itu tetap masuk dalam kategori BUT. 

Nah, banyak juga yang takut kalau Google dipaksa-paksa bayar pajak, nanti si mbah ini bakalan hengkang dari Indonesia dan kita-kita akan repot, balik lagi ke jaman batu. Haa? Sotoy itu jangan kebangetan gitu ah! Gini lho, mereka ini bisnis disini, jangan disamain sama sumbu pendek yang bentar-bentar main boikot itu. Yakin mereka akan hengkang dari Indonesia? Indonesia ini pasar yang menjanjikan banget lho buat mereka. FYI, Indonesia itu pengguna internet terbesar keenam di dunia lho, dibawah Jepang dan diatas Rusia. Jadi kau jangan khawatir lagi ya kawan..

JP Morgan udah disikat sama Ibu Sri Mulyani (baca disini), Freeport diskak-ster sama Pak Jonan (baca disini). Indonesia itu bangsa besar, masa kalah sih sama Google? 

Pesanku buat si mbah singkat saja..
Mbah, jujur aja ya nanti soal penghasilannya berapa yang didapat dari sini. Jangan sekali-kali mikir buat ngakalin pajak sampeyan, nyogok petugas pajak begitu. Indonesia sekarang sudah mulai bersih mbah, yang gitu-gitu udah mulai gak bisa (amiiin). Lagian, walaupun bayar pajak secara benar pun aku rasa si mbah tetap bakalan untung besar kok, jangan khawatir dan jangan tamak ya mbah..

Share tulisan ini agar lebih banyak yang membaca!
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id