![]() |
| Presiden Jokowi dan Kartu Indonesia Sehat |
Kawan,
Coba sebutkan berapa jumlah kartu yang ada di dompetmu sekarang? KTP, SIM bisa sampai dua bahkan lebih, BPJS juga bisa sampai dua (Kesehatan dan Ketenagakerjaan), NPWP, Kartu Commuter Line atau e-money, ada juga yang punya KIS, KIP atau KJP. Belum lagi kartu-kartu dari bank kayak ATM dan Kartu Kredit. Bisa jadi, dompetmu penuh cuma sama kartu kan? Hayo ngaku aja deh...
Tidak menampik memang, banyaknya kartu yang ada sekarang juga banyak ngebantu. Contohnya BPJS (Kesehatan) atau KIS, berobat bisa gratis, walaupun memang jadi ribet sendiri juga. Ngantrinya jadi dobel, antrian BPJS dan antrian dokternya. Mau ngomel gimana, preminya murah banget gitu. Mau gak mau ya diterimain aja deh. Tapi pernah gak sih kamu ngerasa ribet dengan semua kartu-kartu itu? Bohong kalo kamu bilang enggak!
Rasanya memang egosentris antar kementerian dan lembaga di Republik ini masih sangat kental. Perhatikan deh, setiap kartu itu memiliki nomornya masing-masing. Padahal setiap kartu-kartu itu kan identification number-nya ngelink dengan nomor KTP juga kan. Apalagi KTP kita kan katanya sudah canggih, sudah ada huruf e di depannya, ada chipnya. Kenapa tidak sekalian dibikin Single Identification Number saja sih? Semua data-data kartu lainnya tadi bisa dimasukkan ke eKTP. Kan lebih ringkas gitu kalo bawa cuma satu kartu kemana-kemana.
"Tapi kan bro, kalo razia polisi di jalan gitu gimana kalo gak ada SIM buat ditunjukkin? Tahu darimana dia sudah punya ijin mengemudi atau belum?". Come on, ini kan sudah tahun 2017 lho, ojek aja udah bisa pesan online gitu! Kalo statement tadi untuk jaman Bapak saya dulu yang SIM-nya masih dari kertas sih masuk akal :)
Sebenarnya kan tinggal dibikin saja aplikasinya untuk cek kartu dengan nomor tunggal tadi apakah dia punya ijin mengemudi atau tidak, begitu juga dengan terdaftarnya di instansi-instansi lain seperti di Direktorat Jenderal Pajak (NPWP), dan Kementerian Kesehatan (BPJS). Bukan sesuatu yang tidak mungkin kan? Rasanya masih sesuatu yang practiceable, wong untuk orang kayak saya aja kebayang kok.
"Anda lagi nyerang Jokowi yang suka luncurin kartu ya bro?" Gak juga tuh, sebenarnya ya sah-sah aja kalau beliau bikin program-program berupa kartu. Selama itu benar-benar membantu rakyat. Lagian masalah ini sebenarnya sudah ada sebelum Presiden Jokowi menjabat kok. Lagu lama yang tak kunjung berhenti dan harus ada yang menekan tombol stop.
"Kalau cuma ada satu kartu, mereka nanti gak bisa main proyek lagi, Bro! Tau sendiri bikin SIM bisa abis berapa.." Nah! Ini memang benang kusut yang harus segera diurai, masalah serius yang harus bisa diselesaikan oleh Pemerintah, khususnya Pemerintahan Jokowi saat ini. Apalagi beliau mengusung Nawacita kan, di bagian kedua Nawacita kan berbunyi "Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya....".
"Memangnya mudah bro bikin begitu, pemerintah pusatnya oke ntar pemerintah daerahnya masalah lagi!" Saya juga mikir hal yang sama sih, seperti yang tadi saya bilang, egosentrisnya masih kuat banget. Semua masih merasa jadi yang paling penting! Apalagi di era seperti sekarang, bahkan setiap pemerintah daerah punya program masing-masing, gak jelek sih cuma kalau gak sejalan dengan pusat kan akan bikin repot. Satu-satunya cara adalah menghilangkan egosentris tersebut, terutama kepala daerahnya jangan hanya mengincar jadi centre of attention alias caper saja. Harus kompak!
Administrasi di Indonesia memang sih selalu terkenal ruwet dari dulu. Bahkan administrasi di kampusku juga begitu sih, eh, tapi gak semua kok, masih ada oknum yang ramah-ramah (?). Tapi administrasi adalah hal yang paling menyentuh masyarakat secara langsung. Percaya atau tidak, karena kerumitan mengurus administrasi masih banyak lho mereka yang di pelosok-pelosok tidak punya KTP. Padahal pelosoknya itu masih di Jawa.
Jepang saja yang tidak ada KTP, bisa kok mengadministrasi warganya dengan baik. Gak percaya? Coba aja kawan baca kisahnya Mbak Weedy di Kompasiana ini. Kita kan mau jadi bangsa yang besar, awalnya ya harus nyontoh (kalau tidak mau dibilang nyontek) dulu sama bangsa-bangsa lain yang udah lebih dulu besar. Presiden Jokowi masih punya waktu 2 tahun lagi. Setidaknya mulai saja dulu, nanti kan bisa dilanjutkan lagi Pakde di periode ke-2.
Program ini seharusnya tidak memakan biaya anggaran yang besar, kan eKTP-nya sudah ada. Malah akan menghemat, karena tidak perlu cetak macam-macam kartu lagi. Asal komitmen, rasa-rasanya Indonesia bisalah Pak!
"Btw, Ahok katanya udah punya kartu Jakarta One ya bro?" Iya di debat kemarin juga saya sempat dengar sih, tapi kalau lihat informasi disini sih sekarang baru terhubung dengan Bank DKI saja. Fungsinya masih kayak e-money, kalau masih gitu sih KTMku juga udah bisa. Walaupun nanti katanya Pak Basuki (maunya dipanggil Basuki doi sekarang) akan terhubung dengan BPJS segala macam sih, kita lihat saja di periode keduanya nanti akan kayak apa. Saya jujur excited juga dengan program ini.
Saya sih sangat amat berharap banget ini bisa kejadian, siapa sih yang gak pengen hidupnya jadi lebih ringkes? Walaupun risikonya adalah dompet jadi keliatan kempes alias ketauan deh kalo lagi gak punya duitnya...
Share tulisan ini jika kamu merasa Indonesia memang negara yang kebanyakan kartunya!
