Transportasi Online: Inovasi vs Regulasi?

GOJEK
Polemik antara transportasi berbasis aplikasi online dengan transportasi konvensional sering sekali terjadi. Demo hingga duel tak hanya sekali terjadi. Penyebabnya udah sama-sama kita ketahui, pelaku transportasi konvensional yang merasa dirugikan atas keberadaan yang online-online ini. 

Kemajuan jaman memang tak bisa dihindari lagi. Apalagi sekarang lagi in banget program business incubate di bidang teknologi. Percayalah, akan banyak bermunculan layanan online-online lainnya sebentar lagi. Perannya yang memudahkan kehidupan masyarakat membuat layanan berbasis online menyebar begitu terstruktur, sistematis, dan masif. Alias cepet banget nyebarnya!

Tapi yang jangan dilupakan adalah, sebaik apapun bisnis dengan basis online ini tetaplah sebuah bisnis. Bisnis adalah soal kompetisi, persaingan. Sama halnya seperti supermarket dan mall yang bersih dan dingin ber-AC itu mengalahkan pasar tradisional yang bau dan becek. Sekarang, supermarket dan mall itu harus bertahan dari serangan marketplace online seperti Bukalapak dan Tokopedia. Bedanya memang gak ada demo dari yang punya toko offline ke kantornya BL/Toped aja. Mungkin karena yang punya toko juga masih bisa jualan lewat online juga.

Jadi, salah supir angkot/taksi nih? Bentar dulu. Saya memang punya beberapa kali pengalaman gak enak naik angkot. Bukan dicopet, Alhamdulillah enggak. Tapi pelayanan supir angkutan umum itu memang rata-rata menyebalkan. Diturunin di tengah jalan gara-gara angkot sepi udah pernah, supirnya belum ngasih kembalian terus kabur juga pernah, belum termasuk ngetem yang bisa sampe 2 jam sendiri dan ugal-ugalan pas lagi bawa kendaraan. Itu baru ngomongin attitude supirnya saja, belum soal keadaan mobil dan penumpang lain. 

Tapi dengan semua pengalaman tidak mengenakkan itu aku akan coba obyektif kali ini. Tak adil rasanya jika menghakimi mereka semua hanya karena kelakuan sebagian dari mereka. Pemerintah memang harus membuat tindakan terhadap kemunculan transportasi berbasis aplikasi ini. Tak seharusnya hanya melulu ribut soal nama pemilik harus PT/Koperasi di BPKB atau kendaraan harus di stempel KIR. Itu sama sekali gak urgent. Model bisnisnya aja beda kok. Tapi lebih penting jika fokus pada penentuan tarifnya.

Kenapa? 
Mungkin sebagian kawan-kawan sudah tahu kalau sebenarnya Gojek dkk itu belum sama sekali ngantungin profit dari operasi bisnisnya selama ini. Semua ongkos yang kita bayarkan itu masuk ke kantong driver-driver mitranya. Bahkan tak jarang, mereka memberi promo potongan harga kepada konsumen bahkan gratis. Itu baru untuk konsumen, belum keuntungan untuk para mitranya. Mitra-mitra itu diberikan target poin-poin yang nantinya bisa dapat bonus dari poin-poin tersebut.

Coba bayangkan, berapa uang yang habis dibakar oleh Gojek dkk selama ini dijalan? Duit siapa? Buat kawan-kawan yang belum tahu, duitnya itu dari para Venture Capital. Mereka rela ngasih duit gila-gilaan karena mereka melihat prospek yang luar biasa dari model bisnis ini. Walaupun banyak juga dari kawan saya yang mencibir venture capital yang berani invest di bisnis online-online ini. Percaya sama saya, venture capital ini banyak uang bukan tanpa alasan. Insting bisnisnya pasti luar biasa. Tidak ada businessman yang mau keluar uang gila-gilaan kalau gak menjanjikan return yang jauh lebih gila. 
Tidak ada businessman yang mau keluar uang gila-gilaan kalau gak menjanjikan return yang jauh lebih gila. Kalau tak percaya, coba saja kawan tanyakan pada pengusaha kaya raya yang rela jadi cawagub itu.
Tapi untuk kawan-kawan yang anak management, khususnya marketing pasti paham strategi apa yang sedang dijalankan oleh para pelaku bisnis online ini. Predatory Pricing. Seperti namanya, strategi pricing ini bertujuan membunuh kompetitor bisnisnya, termasuk transportasi konvensional.

Kok sadis banget? Begitulah bisnis kawan.

Mereka pada awalnya menawarkan layanan dibawah cost, hingga para kompetitor mereka berdarah-darah dalam persaingan dan para pelanggan terbiasa menikmati layanannya. Ketika kompetitornya sudah tidak sanggup lagi bersaing dan hilang dari arena pertandingan maka mereka akan memulai me-monetize bisnisnya. Menutup kerugian yang dialami sebelumnya dan mengejar profit. Kebayang gak kalo mereka sudah tidak ada kompetitornya lagi? Monopoli pasar akan terjadi.

Maka menjadi penting bagi Pemerintah untuk menentukan tarif batas bawah maupun atasnya. Tarif bawah harus mencakup cost keseluruhan + margin. Tak lain dan tak bukan untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat. Baik antara transportasi online dengan konvensional maupun dengan sesama online lainnya. Penentuan tarif atas tentu saja agar mereka tidak dapat mengenakan tarif seenaknya. Melindungi konsumen.

Persaingan promo terus-terusan antar penyedia layanan online memang terkesan menguntungkan konsumen, tapi hanya pada awalnya. Sebenarnya dibalik itu semua, mereka (online) sebenarnya sedang adu kuat-kuatan modal. Uang siapa yang akan habis duluan saat praktek predatory pricing ini dijalankan. Uang habis = hilang dari peredaran. Yang bertahan akan menguasai pasar. Tidak sehat.

Transportasi online memang sebuah terobosan, inovasi. Kemunculannya yang mengagetkan tak hanya di Indonesia, tapi seluruh belahan dunia. Inovasi itu tak bisa ditahan-tahan. Hanya cukup sedikit sentuhan regulasi yang apik biar jadi asyik. Untuk yang konvensional, tetap harus berbenah diri lho ya..

Share tulisan jika kamu pengguna setia dan peduli dengan angkutan umum di Indonesia!
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id