Perempuan Bekerja, Kenapa Enggak?

Wanita Karir
Latar belakang mengapa akhirnya saya menulis ini adalah karena makin banyaknya akun-akun media sosial yang kebanyakan bertemakan islami semakin sering menjustifikasi perempuan-perempuan yang bekerja dan berkarya selain menjadi ibu rumah tangga. Tak ada yang salah menjadi ibu rumah tangga full time, namun menghakimi bahwa kaum perempuan hanya pantas berada di rumah dan bekerja di luar rumah merupakan perbuatan yang salah rasanya benar-benar membuat saya gerah. 

Alasan-alasan yang selalu dikemukakan oleh akun-akun tersebut dalam tulisan-tulisannya seakan-akan bahwa kaum perempuan adalah sumber malapetaka dan masalah bagi umat. Apabila perempuan dibiarkan keluar rumah maka akan terjadi sesuatu yang membahayakan, seperti keluarga yang berantakan tidak terurus atau bahkan perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya. Pokoknya perempuan harus di rumah. Titik. Begitu kata mereka.

Perempuan Juga Ingin Berkarya
Di jaman penyetaraan hak antara laki-laki dan perempuan seperti sekarang melahirkan banyaknya perempuan yang menempuh pendidikan tinggi, dari jenjang Diploma hingga Doktoral. Apabila para perempuan tadi ingin berkarya mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya di Universitas kepada masyarakat maka sesungguhnya mereka dapat memberikan manfaat juga bagi umat, sama seperti manfaat yang diberikan oleh laki-laki yang bekerja. Tak hanya itu, penghasilan yang diperoleh perempuan dari bekerja juga sebagian besar akan dialokasikan untuk kebutuhan keluarganya. Tidak sepatutnya kebermanfaatan mereka dikekang. Dzalim.

Khadijah, Istri Nabi Yang Bekerja
Yang selalu digaungkan dalam melarang para perempuan tersebut untuk bekerja adalah semangat menegakkan syariat Islam. Jika syariat Islam melarang para perempuan untuk bekerja, berkarir, berkarya di luar rumah maka bagaimana dengan Khadijah, istri Rasulullah SAW yang begitu Rasul cintai. Khadijah adalah seorang perempuan yang hebatnya luar biasa, ia sudah bekerja, seorang pedagang besar bahkan sebelum Nabi Besar Muhammad SAW menikahinya. Apakah kalian ingin mengatakan bahwa pilihan Nabi salah? Tentu saja tidak!

Apabila yang dikhawatirkan dari seorang perempuan yang bekerja adalah terbengkalainya urusan rumah tangga maka sikap suami dengan tangan terbukanya sangat dibutuhkan disini. Sang suami tidak bisa mementingkan ego pribadi. Suami bisa mendukung karir sang istri dengan membantu istri dalam mengurus rumah tangga. Memandikan anak, menyapu lantai, mencuci baju dan lain sebagainya. Tidak perlu ada rasa malu apalagi gengsi. Ini kan rumah tangga bersama juga.

Dan apabila yang dikhawatirkan dari seorang perempuan yang bekerja adalah mereka tidak bisa menjaga kehormatan dirinya maka kuncinya adalah ber-husnudzon pada mereka. Karena sesungguhnya perempuan yang berada di rumah pun sama saja berpotensinya untuk melakukan hal tersebut, terlebih di jaman internet dan media sosial seperti sekarang ini. Terlebih, bagaimana mungkin ada laki-laki menikahi seseorang yang ia tidak percayai?

Para perempuan berhak menentukan dan memilih peran yang ia kehendaki, baik ibu rumah tangga full time, pegawai kantoran, bahkan berbisnis seperti halnya Khadijah. Kuncinya adalah kesediaan dari suaminya untuk saling berbagi peran dan memberikan mereka kepercayaan.

Mengutip dari Prof. Nadirsyah Hosen:

Kalau para lelaki hendak menjadikan istrinya semulia Khadijah, sudahkah para lelaki berusaha ber-akhlak seperti Muhammad SAW? Kalau lelaki menuntut perempuan menjadi shalihah, sudah yakinkah para lelaki kalau sudah duluan masuk kategori orang shaleh?

Anda suruh mereka pakai hijab syar’i, tapi anda sendiri kaum lelaki sudahkah menjaga dan menundukkan pandangan anda kepada perempuan yang bukan hak anda?
Anda suruh mereka diam dan tinggal di rumah, tapi sudahkah anda bawa pulang nafkah yang cukup untuk keluarga?
Anda minta mereka mendidik anak-anak anda di rumah, tapi sudahkah anda beri kesempatan mereka meningkatkan ilmunya agar mampu mendidik anak dengan baik?
Anda suruh mereka patuh pada suami, tapi sudahkah anda juga patuh kepada Allah yang befirman “dan bergaullah kamu semua dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik. Kemudian jika kamu tidak suka kepada mereka (disebabkan tingkah lakunya (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19) ?
Anda minta mereka menjaga kehormatan diri mereka saat anda pergi, namun sudahkah anda menjaga kehormatan diri di luar rumah?
Sudahkah anda berterima kasih pada mereka atas apa yang telah mereka sajikan dan apa yang mereka persembahkan untuk anda dan keluarga demi sama-sama mencari Ridha ilahi?
Sudahkah anda meminta maaf kepada mereka kalau anda berbuat khilaf? Atau anda termasuk lelaki yang gengsi meminta maaf?
Sudahkah anda meminta doa dari istri untuk kemudahan dan kesuksesan anda? Atau anda termasuk yang gengsi meminta doa karena merasa anda lebih paham agama?
Mereka bisa berperan menjadi Khadijah, atau Aisyah atau Hafsah dan juga Zainab (para istri Nabi), tapi sudahkah anda menjadi Muhammad SAW untuk mereka?
Mari jadikan tulisan ini pembelajaran bersama bagi kita sesama laki-laki.
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id