![]() |
| Sri Mulyani Indrawati dan keluarga |
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya dengan tema dan judul yang sama, kalau kawan-kawan belum membaca disarankan membaca terlebih dulu disini.
Kali ini saya akan memulainya dengan sebuah kutipan tweet dari seorang 'ustad' mualaf
"wanita itu harus kuat, mandiri, nggak bergantung yang lain" | ya udah, itu pilihanmu, jarang lelaki yang mau wanita seserem itu hehe.. :D
Saya agak malas untuk memberitahukan siapa beliau, karena saya memang tidak mengikuti dakwahnya yang dirasa caranya kurang pas buat saya. Terlebih ketika baru-baru ini acara pengajiannya dibubarkan dan kemudian malah meng-kambing hitam-kan Banser dan Ansor NU, padahal bukan karena itu alasannya. Mohon maaf apabila ada fans beliau disini. Syudahlah, sekip...
Sebenarnya pemahaman seperti tadi sudah seringkali saya dengar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seakan-akan perempuan yang memiliki karir adalah sebuah momok yang menakutkan bagi laki-laki. Seakan-akan perempuan yang memiliki karir adalah ancaman bagi laki-laki. Bahkan seakan-akan perempuan yang memiliki karir tidak memiliki harapan memiliki pasangan. Sehingga stigma yang muncul adalah apabila perempuan ingin memiliki pasangan hidup maka ia haruslah tidak bekerja karena laki-laki tidak akan mau dengan perempuan yang bekerja. Duh!
Menurutku jawabannya sederhana saja, jodoh dan rejeki semuanya adalah urusan Tuhan, Allah SWT. Apabila perempuan tersebut sudah memiliki rejeki yang lumayan, dalam artian memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan, maka itu sudah takdirNya. Malah aneh rasanya apabila ada laki-laki yang takut dengan perempuan yang sudah mandiri sebelum menikah. Apakah laki-laki takut tersaingi dengan perempuan? Lagi-lagi ini soal ego besar yang memang kebanyakan laki-laki miliki.
Begitu juga dengan jodoh sang perempuan yang sudah diatur olehNya. Anda kok rasanya berani betul untuk mendahuluiNya? Memangnya tahu darimana sih perempuan tersebut tidak akan menikah hanya karena ia telah bekerja? Ngintip dimana hayo? Hihi.. :D
Mungkin sedikit banyak ada yang bertanya, "Kenapa sih Yud bahas kayak gini? Kamu ini kan laki-laki!" Karena justru menurutku pemahaman seperti di atas tak hanya menghakimi perempuan yang bekerja, tapi juga laki-laki seperti aku. Karena pemahaman tadi seakan-akan merendahkan kaum laki-laki, seakan-akan kami semuanya takut bersaing dengan perempuan. Sekaligus ingin meluruskan yang rasa-rasanya kurang lurus. Lagian kenapa laki-laki harus takut, sih?
Mandiri = Menarik!
Mandiri memiliki cakupan yang cukup luas apabila diartikan, mulai dari dapat mengurus dirinya sendiri hingga mandiri secara finansial atau keuangan. Pertanyaannya, bagaimana mungkin perempuan yang mandiri malah terlihat menakutkan? Ia sudah terbiasa membeli bedak dan perias diri lainnya dari uang pribadinya sendiri, Ia sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri dalam keseharian. Atau malah ia sudah terbiasa menanggung kebutuhan hidup orang tua dan adik-adiknya. Apakah itu semua terlihat seram bagimu? Buat saya, justru perempuan seperti ini terlihat lebih menarik.
Bahkan sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Besar Muhammad SAW juga memilih wanita yang mandiri sebagai pasangan hidupnya, Khadijah.
Mandiri = Kaki Yang Kuat!
Kemandirian itu apabila diibaratkan maka ia adalah kaki yang kuat. Sekali lagi saya tuliskan, untuk menghindari kesalahpahaman pembaca, saya tidak menghakimi perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga, anda perempuan yang hebat. Menghalang-halangi perempuan untuk bekerja, memperoleh penghasilan rasanya bukanlah sebuah langkah yang bijak. Terlebih apabila laki-laki belum mampu membawa nafkah yang cukup untuk keluarga di rumah.
Kemandirian ibarat kaki yang kuat, yang menopang keseluruhan badan, bergerak dan hidup dengan baik. Tanpanya, tak bisa kubayangkan. Pasti sulit sekali. Bayangkan dalam sebuah keadaan dimana perempuan yang ditinggal meninggal suaminya. Suami yang menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga. Satu-satunya kaki yang menopang badan bernama keluarga itu telah tiada. Apabila perempuan sebagai istri tidak terbiasa mandiri, bekerja maka yang akan terdampak pastilah keluarga, anak-anak.
Kemandirian ibarat kaki yang kuat. Perempuan dengan kaki yang kuat tidak akan mudah terjatuh dengan batu-batu terjal. Sebaliknya, perempuan dengan kaki yang lemah akan rentan terjatuh. Bayangkan ketika perempuan yang mengetahui suaminya berkhianat, mendua, berselingkuh dengan perempuan lain. Rasanya akan sangat sulit bagi perempuan yang tidak berpenghasilan karena menuntut cerai akan berdampak kepada anak-anak. Pada akhirnya perempuan tadi akan bersedia dipoligami karena meskipun hati tak terima, tapi instingnya sebagai Ibu akan memilih mengalah demi anak-anak yang dicintainya. Apabila perempuan memiliki kaki-kaki yang kuat, maka ia akan tetap berdiri dengan kokoh bagaimanapun suaminya mengkhianati dirinya.
Kemandirian ibarat kaki yang kuat. Bukankah lebih nikmat memiliki dua pasang kaki yang kuat? Bersama-sama melangkah mantap. Diajakin lari juga oke.
Jangan Takut!
Apa sih yang sebenarnya ditakutkan dari perempuan yang bekerja, takut perempuan nantinya tidak menurut dengan sang suami karena memiliki gaji? Jabatan dan gaji si perempuan yang lebih tinggi dari si laki-laki sehingga merasa tersaingi? Atau malah keduanya? Jawabannya kembali lagi kepada individunya. Laki-laki tidak boleh kehilangan nyalinya alias minder hanya karena penghasilannya kalah besar dibanding si perempuan. Daripada merasa tersaingi, alangkah lebih baik kalau dijadikan motivasi untuk lebih giat dalam bekerja. Dan tentu saja dengan kemandiriannya, perempuan sama sekali tidak dibenarkan menjegal atau bahkan menendang suaminya. Karena bagaimanapun keadaannya, laki-laki adalah kepala keluarganya. Tidak peduli apa jabatan dan berapa penghasilan yang diperolehnya dari pekerjaan. Perlu diingat, rejeki sudah diatur olehNya. Bisa jadi memang rejeki yang mengalir untuk keluarga sebagian besar memang lewat perempuan, istri. Wallahu a'lam.
*Foto ilustrasi diatas menggunakan potret keluarga Ibu Sri Mulyani Indrawati yang merupakan salah satu contoh perempuan yang berkarir dan kebermanfaatannya dirasakan tak hanya oleh keluarganya tapi juga oleh Indonesia dan dunia.
