Masa Depan Ekonomi Digital di Luar Jawa

Ekonomi Digital di Indonesia

Data dari Euromonitor menyatakan penjualan online Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN, yakni mencapai $ 1,1 Milyar, lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Singapura. Data lain juga menyebutkan, bahwa penjualan e-commerce di Indonesia hanya sebesar 0,07 persen dari total perdagangan retail.

Ini merupakan sebuah pertanda yang sangat baik, artinya pasar e-commerce Indonesia masih bisa digarap lagi dan akan terus tumbuh dan tumbuh. Hal ini juga didukung oleh Euromonitor yang memperkirakan rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan online Indonesia selama tahun 2014 hingga 2017 adalah sebesar 38 persen.

Namun masalahnya..

Menurut survey dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet mengungkapkan tidak meratanya pengguna internet di Indonesia, yang mana 65%-nya berada di Jawa. Padahal, akses internet yang merata adalah kunci utama suksesnya e-commerce. Riset DBS, Sink or Swim – Business Impact of Digital Technology mengungkapkan bahwa pemerataan layanan teknologi digital dan penggunaannya memberikan dampak bagi dunia bisnis, termasuk UMKM.

Tidak hanya itu, Riset DBS, E-Commerce in Asia: Bracing for Digital Disruption menyatakan, buruknya infrastruktur logistik di Indonesia, khususnya di luar Jawa dan Bali. Itulah kenapa biaya logistik di dalam negeri kita masih sangat mahal. Ambil contoh untuk biaya termurah untuk kirim barang dari Jakarta ke Jayapura Selatan Rp. 75.000 per kilogram, dengan estimasi waktu pengiriman hingga enam hari.

Sehingga menurut saya pribadi, 

Tiga langkah yang harus dilakukan adalah perluasan jangkauan internet, pembenahan infrastruktur logistik dan penyesuaian regulasi.

  • Langkah Pemerintah dalam membangun proyek Palapa Ring yang bertujuan untuk meningkatkan jangkauan internet hingga ke pelosok negeri haruslah berjalan sesuai jadwalnya, yakni rampung pada akhir 2018.

  • Pembenahan infrastruktur seperti jalan raya, dan pelabuhan berperan aktif untuk menciptakan logistic berbiaya murah dan cepat.

  • Penyesuaian regulasi seperti pajak dan yang lainnya juga harus benar-benar mengakomodir para pelaku ekonomi digital. Jangan sampai, mereka justru diberatkan oleh regulasi yang tidak mampu mengikuti jaman. Bahkan, untuk semakin mempercepat pertumbuhan tidak ada salahnya jika Pemerintah memberikan insentif bagi para pengusaha e-commerce. Dapat berupa keringanan pajak dan/atau insentif bentuk yang lainnya.

Tak lengkap rasanya jika kita membahas ekonomi digital hanya membahas e-commerce dan tidak membahas fintech.

Jumlah pengguna smartphone yang tinggi di Indonesia didukung dengan prediksi emarketer yang memprediksikan pada tahun 2018, jumlah pengguna smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang seakan menggambarkan bagaimana arah fintech ke depan.

Riset DBS, Digital Banking: New Avatar-Banks Watch Out for Banks, menyebutkan bahwa fintech memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh bank tradisional. Fintech mampu menawarkan kemudahan akses dan juga biaya yang lebih murah. Hal-hal yang tidak mampu diakomodir oleh bank tradisional.

Ini sekaligus menjawab hasil laporan Indonesian Fintech Report di tahun 2016 yang menyatakan bahwa ada 49 Juta pelaku UMKM yang belum bankable.

Saya, Yudha Basuki, percaya, apabila akses internet di Indonesia semakin baik, maka pertumbuhan Fintech yang sudah cepat pada tahun 2015-2016 akan semakin cepat lagi. Terlebih pengguna internet yang di dominasi berusia 25-44 tahun, membuat adaptasi masyarakat pada digital perbankan seharusnya tidaklah menjadi masalah.

Sumber: DBS YES
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id