![]() |
| Lotus Sarinah |
Sebagaimana judulnya, dunia ritel di Indonesia sepertinya memang sedang carut-marut tidak keruan. Dimulai dari tutupnya seluruh gerai Seven Eleven, tempat nongkrong anak muda alay yang beli minum satu duduknya seharian, setelah itu disusul oleh berita-berita penutupan beberapa gerai ritel pakaian seperti Matahari dan Ramayana. Tak hanya tutup, muncul juga berita tentang sepinya Mal Glodok yang dulu terkenal sebagai sentra penjualan elektronik itu. Sekarang, Lotus dan Debenhams dikabarkan akan segera menyusul teman-temannya.
Kabar ini membuat banyak spekulasi di masyarakat. Terlebih ketika bukan hanya ekonom dan marketer yang berkomentar, namun juga para politisi. Sehingga informasi yang beredar menjadi tidak jelas, sebenarnya salah siapa sih ini? Dan, sebenarnya apa pula yang terjadi?
Salah Jokowi?
Tak elok rasanya jika semua hal yang terjadi baik itu positif maupun negatif selalu dikait-kaitkan dengan Presiden di Republik ini. Saya melihat fenomena ini juga terjadi di dunia global tak hanya Indonesia. Mengutip dari Reuters.com, Wal-Mart, ritel terbesar di Amerika Serikat, pada awal 2016 dikabarkan menutup 269 tokonya karena biaya operasional yang tinggi.
Tak hanya itu, kabar dari Forbes.com mengungkapkan bahwa Amazon kini telah menjadi ritel terbesar nomor tiga di dunia. Bahkan, e-commerce asal China, Alibaba berhasil merangsek masuk menduduki posisi nomor enam ritel terbesar di dunia. Dikatakan disana bahwa Wal-Mart memang masih merupakan ritel terbesar saat ini, namun fenomena Amazon dan Alibaba ini seakan memberikan kita jawaban apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Maksudnya?
Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi banyak mempengaruhi gaya hidup kita, manusia jaman now. Jika dulu berangkat ke kantor atau sekolah harus berhadapan dengan kemacetan, sekarang tetep macet sih, tapi munculnya transportasi online terbukti sangat membantu. Waktu tempuh menjadi lebih cepat, dan kaki tidak besar sebelah akibat bolak-balik injak kopling.
Begitu juga dengan gaya hidup konsumtif kita yang telah berubah. Kemudahan yang diberikan oleh marketplace seperti Bukalapak dan Tokopedia serta akses internet yang semakin merata berandil besar terhadap perubahan tersebut. Mau cari barang apa, tinggal klik. Mau pilih barang berdasarkan penjualan ataupun harga termurah, tinggal klik. Tidak perlu tawar-menawar, cukup cari saja toko mana yang menjual paling murah. Untuk pembayaran juga tinggal klik. Tak lama barang sampai ke pangkuan, bahkan ada yang memberikan jaminan maksimal sampai dalam hitungan jam saja. Jika tidak cocok atau barang rusak, ada fasilitas retur.
Hal-hal ini yang dulunya harus dilakukan dengan sepenuh jiwa raga, seperti harus bermacet-macetan menuju pusat perbelanjaan, keliling mal untuk menghampiri satu persatu toko untuk mencari harga termurah dan barang terbaik, belum lagi dibutuhkan skill tawar menawar tega yang tidak semua orang memilikinya.
Jadi, salah toko online nih?
Bukan begitu cara memandangnya, justru kemajuan zaman ini harus dilihat sebagai sebuah penawaran solusi. Jika hanya memandang dari sisi negatif, maka tidak ada bedanya kita dengan mereka yang bersikeras menolak transportasi online itu. Tidak akan dapat untung apa-apa. Sehingga kita harus melihat fenomena ini sebagai sebuah opportunity yang seharusnya kita maksimalkan. E-commerce harus dilihat sebagai sebuah pasar yang tidak memiliki batas atau no-border market. Kita dapat memasarkan barang kita hingga ke negara manapun, selama kita dapat membuat mereka tertarik untuk membelinya. Menarik kan?
