![]() |
| Save vs Invest |
Sebagai bagian dari pemuda jaman now, rasanya saya paham betul bahkan pernah turut merasakan kebingungan generasi milenial dalam mengalokasikan uangnya. Transisi dari sebelumnya anak sekolah atau mahasiswa dengan uang saku yang pas-pasan menjadi pekerja muda dengan penghasilan yang lumayan setiap bulannya tak jarang membuat kita kagetan, pengeluaran mendadak menjadi ugal-ugalan, terlebih ajakan kawan yang membuat kita menjadi seorang hedonis.
Ngopi-ngopi lucu di kafe menjadi sebuah rutinitas, terlebih ketika hari pertama transferan gaji. Betul apa betul? Sebenarnya sih niat awal tulisan ini bukannya ngelarang kamu buat ngopi-ngopi fancy, tapi kalo ya gajimu sebulan aja masih satu digit tapi suka bolak-balik SB kok agak gimana gitu ya. Hahaha...
Kenapa saya sedikit menyinggung mengenai kebiasaan ngopi fancy di awal tulisan, karena ini berkaitan dengan tema tulisan saya kali ini. Gimana mau milih nabung atau investasi kalo gaya hidup kamu masih hedon begitu. Percaya deh, kalau kamu gak mau ngerubah kebiasaan kamu yang satu itu, boro-boro kamu mau nabung, uangnya cukup sampai gajian berikutnya saja sudah syukur Alhamdulillah. Jangankan kepikiran buat investasi, untuk bertahan hidup selama sebulan saja kamu masih bergantung sama credit card atau teman untuk kamu hutangin.
Ngerasa kesindir? Bagus!
Mudah-mudahan setelah kamu merasa sedikit tersentil ini kamu bersedia untuk membaca tulisan ini sampai selesai, jangan malah jadi close tab ya :)
Ketika kita sudah mulai bisa untuk ngerem pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya konsumtif tadi, maka yang akan terjadi adalah surplus di rekening kita. Percaya deh, pertama kali kamu ngeliat hal ini bakalan buat kamu seneng pake banget! Kemudian, persoalan berikutnya adalah mau dikemanakan uang sisa ini? Maka pilihan yang akan menghampiri adalah antara menabung atau investasi. Tapi teman-teman, pilihan sebenarnya tidaklah sesederhana itu.
Terlebih ketika kini menabung dan investasi menjadi tidak jelas lagi batas pembedanya. Memiliki saham perusahaan publik dulu disebut sebagai investasi, sekarang bisa disebut menabung terlebih ketika ada kampanye dari pemerintah 'Yuk Nabung Saham!'. Apakah pemerintah salah? Tidak sepenuhnya. Bahkan sejak dulu sudah ada istilah menabung emas. Hayo, kalau menurut kamu beli emas itu menabung atau investasi?
Oke kita masuk ke inti pembahasan ya, ini dia pilihan-pilihan tabungan dan investasi yang bisa kamu pilih nih.
- Deposito dan Obligasi Ritel Indonesia
Jika kamu adalah seorang yang sangat risk adverse atau memilih untuk menghindari risiko sama sekali maka menabung dalam bentuk deposito dengan bunga 5% - 6% (merujuk pada bank BUMN Link) dapat menjadi pilihan kamu. Ini karena jumlah uang kamu tidak akan berkurang, meskipun bunga yang diberikan oleh bank tidak begitu besar namun sedikit lebih besar dibandingkan tingkat inflasi tahun 2016 yang lebih kurang 3%. Disarankan untuk membuat deposito di bank yang memiliki reputasi baik, jangan mudah tergiur dengan bunga yang tinggi. Untuk keamanan uang kamu tentu saja.
Selain deposito, membeli Obligasi Ritel Indonesia atau ORI juga dapat menjadi pilihan buat kamu. Risiko yang rendah, karena surat utang yang dikeluarkan oleh negara membuat risiko default menjadi sangat kecil. Jika pada umumnya memiliki obligasi harus memiliki dana yang sangat besar, tidak begitu dengan ORI. Dana minimal 5 Juta Rupiah sudah bisa berinvestasi. Tak hanya keuntungan berupa bunga kupon yang ditawarkan sedikit diatas bunga deposito tapi kamu juga turut berkontribusi bagi pembangunan republik ini. Namun, ORI ditawarkan pada waktu-waktu tertentu saja. Sehingga kamu harus up-to-date info-info soal ORI di situs Kementerian Keuangan.
- Emas
Jika kamu memiliki sedikit keberanian yang lebih maka membeli emas dapat menjadi pilihan yang dapat kamu ambil. Meskipun saya lebih senang menyebutnya sebagai investasi karena sifatnya yang berfluktuasi terhadap US Dollar, namun saya juga setuju dengan istilah menabung emas karena pada umumnya jika kita menyimpan emas (logam mulia ya, bukan perhiasan) selama setahun saja maka harganya akan naik.
Namun, yang perlu diperhatikan sebelum berinvestasi emas adalah soal timing-nya. Sebaiknya tidak membeli ketika harganya sedang naik dan menjual ketika tren harga sedang turun. Maka memantau pergerakan harga emas menjadi kewajiban ketika kamu memilih mengalokasikan uang kamu disini.
- Asuransi dan Reksadana
Jika keberanian kamu sudah lebih besar lagi, maka tak ada salahnya kamu untuk mulai mempertimbangkan jenis investasi ini. Untuk asuransi disarankan untuk memilih yang terpisah dengan asuransi jiwa, tidak apa-apa memiliki dua jenis asuransi. Sebelum memilih penyelenggara asuransi atau reksadana yang tepat, tak cukup hanya mendatangi satu perusahaan saja. Hal ini tentu saja untuk menambah referensi kamu perusahaan mana yang dapat memberikan return lebih baik.
Sama halnya dengan deposito, sebaiknya kita melakukan cross-check terhadap rekam jejak perusahaan tersebut. Jangan lupa untuk bertanya secara mendetil kepada konsultan investasi atau agent mereka, terutama pada hal-hal yang masih membingungkan kamu atau kurang jelas. Kamu tidak perlu sok pintar disini.
- Saham
Jika kamu sudah pada tahap sebagai orang yang risk-taker, maka jenis investasi ini bisa kamu pilih nih. Namun yang perlu menjadi catatan buat kamu sebagai investor baru adalah saham merupakan barang yang punya tingkat volatility yang tinggi atau dengan kata lain kemungkinan harga untuk naik atau turunnya besar, dalam hitungan hari bahkan detik sekalipun. Ini dikarenakan bursa sebenarnya dikendalikan oleh market maker atau bandar, yang bertugas untuk menaikkan atau menurunkan harga saham, dengan tujuan likuiditas saham itu sendiri.
Namun, diantara setiap saham tersebut memiliki tingkat volatility yang berbeda-beda. Sehingga lebih baik untuk memilih deretan saham yang direkomendasi oleh indeks-indeks seperti LQ45, BISNIS27, dan KOMPAS100. Memang bukan sebuah jaminan saham-saham yang berada disana selalu memberikan return yang lebih menguntungkan dibandingkan saham diluar indeks tersebut. Namun, saham-saham tersebut umumnya memiliki tingkat volatility yang tidak terlalu tinggi, likuid dan berperforma baik. Jika kamu dapat menyusun portofolio saham dengan baik, maka return yang akan kamu dapatkan bisa jauh lebih besar dibandingkan deposito.
- Bitcoin (Cryptocurrency)
Cryptocurrency sebenarnya memiliki banyak jenis, namun yang paling terkenal now adalah Bitcoin. Terutama ketika harganya sekarang naik berkali-kali lipat dibandingkan ketika pertama kali ia diperkenalkan. Pemberitaan yang masif di media massa semakin menambah popularitasnya. Sebenarnya tak masalah jika kamu tertarik dengan jenis investasi yang satu ini. Namun, harganya yang kini sudah terlanjur naik tinggi sebaiknya membuat kita berhati-hati. 'Apakah kamu yakin harganya akan tetap naik terus?' Sebelum kamu melakukan investasi, tidak ada salahnya kamu bersikap skeptis seperti itu, sebagai sebuah bentuk kehati-hatian dan kewaspadaan dalam memilih jenis tabungan atau investasi yang hendak dipilih. Terlebih, kita harus belajar dari fenomena bubble yang menimpa sektor properti di Amerika Serikat beberapa tahun silam.
Alasan kenapa tidak memasukkan tabungan biasa sebagai pilihan adalah karena bunga yang ditawarkan pada umumnya tidak mampu melawan tingkat inflasi yang ada. Maka penulis mengasumsikan tabungan biasa hanyalah bersifat sebagai pengganti dompet fisik kita, tempat menyimpan uang untuk konsumsi sehari-hari saja.
Jadi gimana nih, sudah dapet pencerahan kan sisa uang kamu bakalan dikemanain setelah membaca ini? Kalau masih belum yakin, kamu bisa lho bookmark blog ini karena berikutnya penulis akan memberikan tips-tips keuangan disini atau kamu bisa langsung menghubungi penulis via media sosial penulis yang ada di sebelah kanan tulisan ini. Sekian dulu. Bubay!
