Aku Cinta Rupiah, Biar Dollar Dimana-Mana

Dollar Kuasa, Rupiah Tak Berdaya
Pelemahan nilai tukar Rupiah akibat menguatnya dollar AS sekarang ini sepertinya sudah menyentuh pada level siaga. Hal ini dibuktikan dengan pemanggilan para pejabat tinggi di bidang ekonomi dan keuangan oleh Bapak Presiden Joko Widodo kemarin. Kalau dilihat sebenarnya penguatan nilai dollar bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap akibat The Fed meningkatkan suku bunga mereka pada bulan Juni lalu. 

Pertanyaan bagi sebagian besar rakyat Indonesia adalah mengapa Rupiah bisa melemah sedemikian rupa? Dan ini tanggung jawab siapa, apakah Pemerintah atau Bank Indonesia selaku lembaga yang bertanggung jawab di dalam kebijakan moneter? 

Perlu diketahui bahwa banyak faktor yang dapat menciptakan melemahnya nilai Rupiah, salah satunya adalah bahwa nilai mata uang suatu negara dipengaruhi oleh jumlah penawaran - permintaan atau supply - demand. Meningkatnya suku bunga oleh The Fed menjadi sebuah daya tarik bagi investor di seluruh dunia. Mereka berbondong-bondong menimbun Dollar dengan harapan meraih keuntungan dari momentum ini. Para investor ini termasuk juga yang berasal dari Indonesia. 

BI naikkan saja suku bunga seperti The Fed, beres kan? 

Tunggu dulu, kebijakan moneter membutuhkan perhitungan yang matang dan tidak sembarangan. Meningkatkan suku bunga juga memiliki sisi minus, investor akan memilih untuk menyimpan uang di bank ketimbang menginvestasikannya pada sektor riil. Padahal sama-sama kita tahu, bahwa Pemerintah saat ini sedang fokus dalam pembangunan infrastruktur. Meningkatkan suku bunga akan menghambat jalannya pembangunan tersebut.

Namun ada hal yang memang seharusnya menjadi sorotan kita sejak dulu. Ternyata, menimbun dollar dalam jumlah yang besar selama ini ternyata tidak hanya menjadi kebiasaan para investor atau pengusaha, tapi juga para pejabat Negara di Republik ini. Bahayanya lagi, hal ini juga dilakukan oleh para pemegang kebijakan di bidang ekonomi dan keuangan nasional. Silahkan saja lihat LHKPN di situs resmi KPK, atau lihat saja pernyataan dari Bapak Faisal Basri di situs kumparan ini. 

Percaya Rupiah

Memiliki Dollar dalam portofolio aset sah-sah saja, tapi jika dalam porsi yang besar maka sama saja dengan tidak mempercayai Rupiah. Menjadi anomali apabila para pemangku kebijakan yang seharusnya mengurusi ekonomi dan keuangan Negara malah justru tidak mempercayai mata uang Negaranya sendiri. Maaf-maaf saja, dalam bahasa ekstrem penulis bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap Republik! Tidak heran apabila muncul anggapan-anggapan bahwa para pemegang kebijakan tidak serius menangani masalah pelemahan Rupiah ini, wong pejabatnya sendiri justru malah menimbun Dollar, menjadi pihak yang paling diuntungkan atas pelemahan Rupiah itu sendiri. 

Hormat saya kepada Presiden Jokowi, karena selaku Presiden porsi Dollar yang dimiliki beliau masih dalam porsi yang sedikit dibandingkan aset lainnya. Hal ini seharusnya dapat menjadi sebuah contoh bagi para pejabat Negara dibawahnya. Meskipun memang sepertinya teladan saja tidak efektif di Negeri ini, perlu adanya aturan-aturan yang secara tegas mengatur kepemilikan mata uang asing khususnya Dollar AS oleh para pejabat Negara. Presiden dalam waktu sesegera mungkin juga perlu untuk mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) yang bersifat memaksa para pejabat Negara di berbagai level untuk melepas semua kepemilikan Dollar mereka. Hal ini akan sangat berdampak besar dalam mengoreksi nilai Rupiah yang sedang babak belur saat ini.

Ah, penulis jadi teringat lagu dari penyanyi cilik Cindy Cenora:
Aku cinta Rupiah, biar Dollar dimana-mana~

Indikator menilai Nasionalisme seseorang dapat dilihat dari portofolio asetnya. Lebih banyak punya Dollar atau Rupiah?
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id