![]() |
| Lancaster Town 1940s (Ilustrasi) |
Ini merupakan cerita dari sebuah Negeri. Jangan tanya aku dimana lokasinya karena bisa-bisa aku dipidana karena telah menceritakan ini kepada kalian. Tidak perlu juga menduga-duga karena tidak ada gunanya. Tenang saja, ini bukan Indonesia.
_
Raja Indra telah memasuki usia senjanya, sudah saatnya ia memilih penerus untuk memerintah kerajaan yang dulunya sempat disegani seantero Bumi ini. Proses ini menjadi begitu rumit dan berbeda, karena sang raja tidak memiliki seorangpun anak yang bisa ia tunjuk. Danurdara, salah satu penasihat sekaligus adik dari sang Raja mengusulkan sebuah sistem baru. Raja tidak perlu mangkat dari jabatan, tapi untuk menjalankan semua tugas pemerintah didelegasikan kepada seorang Perdana Menteri. Ide ini tentu saja tidak gratis sama sekali, Danurdara mengajukan anaknya yang saat ini merupakan seorang Jenderal Panglima Perang yang terkenal piawai dalam menyusun strategi, namanya Biandra.
Raja Indra, bukannya tidak mau menunjuk seorang Perdana Menteri tapi ia hanya kurang sreg saja dengan Biandra. Alasannya hanya diketahui oleh Raja sendiri, tidak ada yang pernah benar-benar tahu mengapa. Saran dari sang penasihat pun sementara hanya ditampung. Dalam kegamangannya, Raja berkeliling ke setiap pelosok Negeri dari desa ke desa. Niat awalnya hanya sekadar refreshing namun di setiap desa yang dikunjungi, sang Raja mendengar ada seorang sosok pemuda bijak yang senang membantu rakyat. Rupanya Raja tertarik mengetahui lebih lanjut siapakah pemuda ini, diperintahkanlah dua ajudannya untuk mencari sosok yang dimaksud. Tak perlu waktu lama untuk menemukan sang pemuda, karena keberadaannya yang selalu diantara masyarakat kelas bawah.
"Siapa namamu wahai pemuda?", Raja Indra mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pemuda yang diketahui bernama Wiraguna ini. Diketahui pula alasan mengapa Wiraguna senang betul membantu rakyat kecil, "Saya pernah berada di posisi mereka wahai Tuanku, Baginda Raja". Wiraguna kecil ternyata hidup berpindah-pindah, dari satu bantaran kali ke bantaran kali yang lainnya karena kondisi orangtuanya yang melarat. Beruntungnya ia sekarang merupakan seorang pengusaha kelas menengah. Setelah mendengarkan ceritanya, semakin tertarik saja Raja terhadap sosok Wiraguna. Pulanglah Indra ke kerajaannya.
Dipanggilah para penasihat, Danurdara, Onindra, Nendra, dan Siandara. Raja menggelar semacam rapat terbatas. Raja menceritakan semuanya mengenai Wiraguna dan niatnya yang hendak menjadikannya Perdana Menteri. Diam-diam Danurdara telah mengetahui pertemuan antara Indra dengan Wiraguna sebelumnya, maka ia hadir dalam ratas dengan segala persiapannya. Danurdara, Onindra, dan Siandara satu suara menentang gagasan Raja Indra, mereka bertiga kompak mendukung Jenderal Biandra. Satu-satunya yang setuju dengan Indra hanyalah Nendra.
Tidak hanya gagah dan cerdik dalam strategi perang tapi juga masih merupakan darah biru dari kerajaan menjadi alasan utama mereka mendukung Biandra. Meskipun pada akhirnya Raja Indra tetap menggunakan hak prerogatifnya untuk memilih Wiraguna sebagai Perdana Menteri. Dari sinilah masalah ini bermula. Wiraguna yang darahnya tidak biru sama sekali tidak memiliki kekuatan pendukung dari kerajaan. Nendra yang mendukung Wiraguna ketika itu pun tidak lebih dari sekedar memanfaatkan momentum. Sekadar mencari posisi aman.
Hingga kemudian, Perdana Menteri Wiraguna dituduh keturunan dari pemberontak masa lalu.
Entah dari mana awal mulanya kabar ini, tapi kabar ini cukup efektif untuk menarik perhatian Raja Indra. Wiraguna dan Indra bertemu empat mata. Karena berasal dari keluarga yang miskin, tentu tidak ada rekam jejak yang jelas dari leluhur Wiraguna. Setelah berusaha menjelaskan bahwa ia bukanlah anak pemberontak, Indra mencoba untuk mempercayai anak muda yang ia pilih sendiri ini. Setelah mendapat kepercayaan kembali dari Raja, Wiraguna kembali menjalankan pemerintahan seperti sebelumnya hanya saja kali ini sedikit lebih represif. Ia tak segan-segan untuk memenjarakan penuduh-penuduhnya. Semua ini dilakukan ternyata atas saran dari Siandara, untuk Negeri yang lebih stabil katanya.
Di lain sisi, Biandra meski batal dipilih oleh Raja Indra justru memiliki posisi politik yang jauh lebih kuat. Tidak hanya didukung 3 dari 4 penasihat Raja tapi juga memiliki kendali atas pasukan perang kerajaan. Bahkan di masyarakat, Biandra disebut-sebut sebagai Perdana Menteri bayangan. Dua kekuatan ini memiliki kelompok massanya masing-masing. Sama-sama fanatik. Sama-sama gila.
Pendukung Biandra akan mati-matian mencari keburukan dari Wiraguna, jika tidak ditemukan maka akan dibuatlah cerita-cerita. Mereka lupa bahwa Biandra pun sebenarnya tidak benar-benar baik juga rekam jejaknya. Tidak lebih baik, pendukung Wiraguna pun akan memaksa Perdana Menterinya untuk memenjarakan pihak Biandra yang terbukti menyebarkan fitnah meskipun mereka sebenarnya juga melakukan hal yang sama terhadap Biandra. Standar ganda.
Perkelahian dan perang saudara menjadi tidak terhindarkan. Hingga mereka semua tidak menyadari bahwa kekayaan Negeri sedang dirampok habis-habisan oleh Danurdara, Onindra, Nendra, dan Siandara, para penasihat Raja. Kemana Raja Indra? Ia sedang sibuk melawan penyakit yang sama sekali tidak bisa ia lawan dan kemudian mati.
