Ini Dia Alasan Kenapa Orang Kaya Makin Kaya, Miskin Makin Miskin

Ilustrasi: The Financial Express
Halo teman-teman, selamat datang di channel blog saya. Untuk teman-teman yang baru pertama kali melihat pasti bertanya-tanya siapa sih orang ini, perkenalkan nama saya Yudha Basuki. Konten-konten saya akan banyak membahas mengenai keuangan, investasi dan perpajakan. 

Saya tebak, pasti teman-teman sudah punya jawaban-jawaban sendiri atas judul bahasan kali ini. Sebentar-sebentar, jangan jawab kalau ini konspirasi elit global apalagi mamarika dan wahyudi. Karena mindset seperti itu, saya bilang jujur saja nih ya, adalah sebuah kesia-siaan. Pola pikir seperti itu selain hanya akan bikin perasaan iri dan dengki, ngerusak otak, juga gak akan ngerubah apapun. Tetep miskin.

Tentu saya juga gak akan bilang sesederhana bahwa kalau yang kaya itu karena dia rajin dan yang miskin itu orang malas, selain tentu saja karena pasti digas banyak orang "Gue udah rajin kerja lembur bagai kuda tetep aja miskin, gue harus serajin apalagi ha?" tapi karena faktanya memang begitu juga. Banyak orang yang bisa kita temukan di sekitar kita, bahkan mungkin orang tua kita sendiri, yang kita tahu persis bagaimana kerja kerasnya mereka tapi tetap saja hidup mereka serba pas-pasan, kalau kita gak mau pakai terminologi kekurangan.

Penyebab utamanya sebenarnya terletak di perbedaan literasi keuangan antara si kaya dan si miskin. Si kaya sudah kenal yang namanya investasi yang benar seperti apa, saham-obligasi-reksadana, bahkan sudah bisa memilih saham dan obligasi yang menguntungkan itu kriterianya apa-apa saja. Sedangkan si miskin, boro-boro paham instrumen investasi ada apa saja, diminta membedakan antara obligasi dan saham saja mungkin bingung sendiri. Ini juga yang membuat banyak si miskin yang justru terjebak pada "investasi-investasi" bodong entah itu bentuknya koperasi, kerjasama atau bahkan dukun pengganda uang, alasannya semata-mata tergiur dengan keuntungan besar tanpa mengenal risiko-risiko yang mungkin akan terjadi. 

Si kaya, biasa mempelajari prospektus sebelum akhirnya memutuskan membeli obligasi. Di dalam prospektus terdapat risiko-risiko yang mungkin akan terjadi, bahkan meskipun risiko tersebut sangat rendah untuk terjadi seperti risiko terjadinya huru-hara di negara yang selama ini damai. Sedangkan si miskin seringkali terjebak dengan investasi bodong karena pasti, saya tekankan lagi ya, pasti tidak pernah dijelaskan risiko-risiko yang mungkin terjadi. 

Saya ambil contoh koperasi Pandawa, nasabahnya dijanjikan imbal hasil 10% per bulan, untuk dana yang disetor. Tanpa pernah dijelaskan bahwa uang para investor tadi disalurkan atau dipinjamkan kepada para pelaku usaha kecil dengan bunga 20% per bulan, saya ulangi lagi per bulan. Kalau saya yang ditawari jenis investasi model begini, saya mungkin bakalan maki-maki mulai dari yang nawarin bahkan mungkin sampai pendiri koperasinya. Pertama, model bisnis ini gila. 20% per bulan itu gila. Bahkan 20% per tahun saja sudah tidak manusiawi untuk bunga pinjaman para pedagang kecil yang seharusnya justru diberikan bunga pinjaman lebih rendah dibanding bunga bank karena mereka kan baru mau mulai. Korban dari investasi Pandawa ini pasti tidak pernah dijelaskan adanya risiko gagal bayar dari para peminjam dana yang mereka salurkan. Tapi ini tidak serta-merta hanya salah koperasi Pandawa, nasabah juga punya andil salah yang besar disini. Kok gak kritis sih? Imbal hasil 10% per bulan yang dijanjikan oleh Pandawa itu asalnya dari mana, karena tidak mungkin ada uang yang turun begitu saja dari langit. 

Ngomong-ngomong soal uang turun dari langit, rasanya gak afdal kalau gak sekalian bahas soal kasus Dimas Kanjeng yang begitu ajaibnya bisa menggandakan uang dari balik punggungnya. Kalau kasus yang ini tidak membuat saya kepengen maki-maki karena ini lucu sebetulnya. Teman-teman yang belajar ekonomi dan paham moneter pasti merasakan hal yang sama, bagaimana mencetak uang baru punya dampak pada inflasi. Tapi sebenarnya gak perlu pintar-pintar amat untuk sekedar tau kalau di setiap lembar uang yang kita punya itu ada nomor serinya. Uang tidak mungkin digandakan seperti men-scan dokumen kemudian mencetaknya berwarna. Model investasi ini memiliki tiga kemungkinan, kemungkinan pertama yakni uang palsu; kedua menggunakan skema ponzi, jadi uang yang katanya hasil dari penggandaan secara ajaib tadi sesungguhnya uang orang lain yang menjadi pengikutnya juga, dan kemungkinan terakhir adalah uang curian. Tapi lagi-lagi gak perlu pintar-pintar amat untuk engeh bahwa uang Rupiah kita dicetak oleh PERURI atas instruksi BI, apakah di alam gaib sana ada PERURI dan BI? Apakah jin-jinnya Dimas Kanjeng menggunakan Rupiah sebagai alat tukar dalam kesehariannya? Hayo!

Jadi jangan hanya fokus pada imbal hasilnya saja. Karena ada sebuah teori atau hukum pasti dalam investasi, hi-risk hi-return, setiap investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi pasti ada risiko besar yang menyertainya. Sehingga poinnya dari semua ini adalah, belajarlah kritis dan sabar. Iya sabar, memang investasi resmi yang diijinkan OJK mungkin tidak mampu menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi atau bahkan minimal setara dengan investasi-investasi bodong yang pernah ditawarkan ke kamu. Tapi tak jamin deh, itu lebih aman buat dompet kamu. Sabar juga karena mungkin kamu tidak akan mendadak akan lebih kaya daripada si kaya, tapi minimal growth kekayaan kamu terus bertumbuh setiap tahunnya, syukur-syukur bisa setara growth-nya, misal si kaya dengan aset awal 100.000 growth 8% per tahun jadi 108.000 pada tahun berikutnya dan kamu dengan aset awal 10 tahun depan growth jadi 10.8. Gapapa, yang penting konsisten untuk terus invest dan kesehatan jantung tetap terjaga.

Jadi sekian dulu. Jangan lupa untuk subscribe dan nantikan bahasan-bahasan lain seputar keuangan, investasi, dan perpajakan di channel ini. Tabik!
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id