Apakah Kupon SBN Ritel Kita Akan Turun Terus?

Naik Turun Kupon SBN
(Gambar: Institute of Economic Affairs)

Assalamualaikum teman-teman, kayaknya udah lama ya kita gak bersua via tulisan?  Mudah-mudahan kabar kalian selalu sehat dan baik-baik saja ya. 


Oke sebelum kita mulai pembahasan kali ini, saya mau bilang dulu di awal bahwa tulisan ini akan berbasiskandata dan tidak dibuat berdasarkan partisan atau memuja tokoh politik manapun. Karena partisan seringkali membuat kita menjadi tidak rasional dan tidak mampu menilai secara subyektif. Jadi buat teman-teman yang masih partisan, tarik nafas dalem-dalem dulu sebelum baca tulisan ini ya.

SBN, Surat Berharga Negara. Produk yang waktu awal-awal kuliah dulu masih disebut SUN atau Surat Utang Negara. Peralihan nama dari SUN ke SBN sepertinya karena istilah utang di kita akhir-akhir ini menjadi sangat sensitif sekali. Sepertinya begitu. Intinya baik itu SBN atau SUN sama-sama obligasi Negara ya..

Kali ini yang kita akan bahas adalah yang ritel ya, jadi cakupannya adalah ORI, SBR dan ST. Kalau kita lihat trennya belakangan ini, masing-masing SBN ini seperti ada tren penurunan. Contoh ST002 yang diterbitin November 2018, ditawarkan dengan bunga kupon minimal 8.30% per tahun tapi kemudian ST003 yang diterbitin Februari 2019 hanya ngasih bunga kupon 8.15%, gitu juga sama SBR. SBR 005 yang diterbitin bulan Januari 2019 sanggup ngasih bunga kupon minimal 8.15% tapi SBR006 yang diterbitin bulan April ini bunga kuponnya malah turun, ditawarkan dengan bunga kupon minimal dibawah 8% yakni 7.95% per tahun. Maka gak heran kalau ada seorang teman yang menanyakan pada saya: 


Gimana nih bunga kupon SBN-SBN di periode mendatang? Apakah akan turun lagi?

Nah, sebelum kesana. Kita akan mulai dulu dengan apa yang menjadi dasar penentuan angka-angka tadi. Bunga kupon yang ditawarkan erat kaitannya dengan beberapa faktor, yakni dengan tingkat bunga bank sentral atau di Indonesia yang berlaku sekarang adalah BI 7-day Repo. Lazimnya, bunga kupon obligasi yang ditawarkan pasti diatas tingkat bunga BI ya. Iya dong, kalo enggak gitu apa menariknya? Ini kan jualan, harus ada nilai lebihnya buat investor. Tambahan bunga kupon ini yang disebut sebagai spread.

Faktor lainnya adalah data Bond Yield yang disediakan oleh IBPA (Indonesia Bond Pricing Agency) atau Penilai Harga Efek Indonesia, mereka punya tuh datanya, baik untuk Obligasi Pemerintah maupun korporasi, kalau Perusahaan dengan rating AAA dengan maturity atau jangka waktu jatuh tempo 3 tahun misalnya berapa Bond Yield-nya. Bond Yield sebagai data historis paling up-to-date ini umumnya digunakan kurang lebih semacam bunga acuan minimalnya. Semakin tinggi ratingnya maka semakin kecil kupon yang ditawarkan, begitu juga sebaliknya. Konsep hi-risk, hi-return nih. 

Baru kemudian dari Bond Yield IBPA tadi dipikirkan akan ditambah berapa persen lagi sebagai pemikat untuk investor. Misalnya tingkat bunga acuan untuk obligasi pemerintah dengan maturity 5 tahun adalah 6.44% per tahun, ditambahin 1.5% sebagai spread atau nilai tambah jadi tingkat bunga kupon yang ditawarkan kepada investor adalah 7.94%. Proses disini agak panjang nih, kalau untuk obligasi korporasi biasanya proses book-building ini melibatkan investor terdahulu ataupun calon investor potensial mereka untuk ditanyakan kepada mereka maunya dikasih bunga berapa hingga mereka bersedia beli obligasi ini.

Bedanya Bond Yield dan Tingkat Bunga Bank Sentral adalah Bond Yield lebih spesifik untuk obligasi dan lebih detil karena tersedia angka untuk setiap maturity dan juga ratingnya.

Masih banyak sebenarnya faktor-faktor lainnya, tapi dari faktor yang udah disebutkan tadi kita dapat ambil kesimpulan bahwa naik atau turunnya bunga sangat erat kaitannya dengan keadaan ekonomi di suatu negara. Kalau keadaan ekonomi suatu negara baik, maka tingkat bunga bank sentralnya rendah. Sebaliknya, kalau negara sedang krisis maka bank sentral akan menaikkan tingkat bunganya sebagai salah satu instrumen kebijakan moneter.

Kalau kita lihat BI 7-day Repo rate, dari bulan November 2018 sampai Maret 2019 tingkat bunganya stabil di 6%. Maka kemungkinan turunnya bunga kupon ST002 ke ST003 ataupun SBR005 ke SBR006 bukan hanya disebabkan faktor tingkat bunga BI saja. Karena tingkat bunga BInya tetap, maka yang turun sebenarnya adalah spreadnya atau tambahan bunga kuponnya atau bisa kita bilang pengiming-imingnya.

Kemudian kita melihat faktor yang mungkin mempengaruhi perubahan pengiming-imingnya ini, yang terlintas di kepala saya adalah faktor kesediaan investor membeli surat utang, semakin banyak permintaan, semakin banyak yang mau beli SBN maka teorinya adalah tingkat bunga yang ditawarkan akan semakin rendah. Logika dagangnya begini, kalau bisa jual mahal aja laku ngapain dimurahin? Percaya atau tidak, salah satu akun media social keuangan yang terkenal itu mempengaruhi naiknya permintaan masyarakat terhadap SBN. Yang mana itu bagus, daripada terjebak di investasi bodong kan?

Kalau bicara permintaan lagi-lagi kita balik ke daya beli masyarakat. Tidak mungkin permintaan terhadap SBN tinggi kalau ekonomi kita lemah, daya beli masyarakatnya lemah. Karena yang kita bahas kali ini adalah SBN Ritel, maka permintaan dan daya beli yang dimaksud adalah permintaan dan daya beli masyarakat kita, Warga Negara Indonesia.

Masalahnya adalah kita memang seringkali terjebak pada opini politisi soal ekonomi utamanya soal utang negara, opini-opini yang seringkali cenderung partisan. Membahas utang negara memang sangat debatable banget, tergantung anda dengerin opininya ekonom yang mana. Tapi poin inti tulisan ini bukan mau bahas siapa ekonom yang benar dan yang salah, tapi bagaimana cara kita dapat memaksimalkan keuntungan dari SBN yang ditawarkan oleh pemerintah.

Jadi kalau kita balik ke pertanyaan awalnya, apakah bunga kupon SBN akan turun lagi? Maka jawabannya tergantung, kebijakan ekonomi kita ke depannya akan bagaimana. Apakah ekonomi kita akan makin kuat atau makin lemah. Karena SBN kita pernah lho nawarin bunga kupon yang jauh lebih rendah dibanding SBN terakhir, yakni di 6.8% per tahun untuk SBR003 pada bulan Mei 2018, ketika BI 7-day Repo kita ada di 4.5%.

Tapi satu alasan saya kenapa terus-terusan meng-endorse SBN ritel adalah karena kita seharusnya bersyukur kepada Pemerintah telah diberikan kesempatan membeli SBN secara eceran (satuan harga lebih murah). Perlu diketahui bahwa minat investor asing terhadap surat utang kita selalu tinggi (SBN Non-Ritel). Alasan utamanya adalah imbal hasil yang luar biasa. Ya, apalagi alasannya? Mereka kan tidak mungkin pakai alasan nasionalisme ketika beli surat utang negara kita. Bila dibandingkan dengan tingkat bunga obligasi Amerika Serikat misalnya, mereka hanya menawarkan di sekitaran 2 hingga 2.5% per tahun. Oke, kalau dibilang tidak apple-to-apple karena credit rating Amerika kan AA+ menurut S&P sedangkan kita hanya di BBB- menurut S&P dan BBB menurut Fitch.

Tapi jika dibandingkan dengan Negara yang sama-sama punya rating BBB, Thailand misalnya mereka juga hanya kasih 2 hingga 3% per tahunnya. Kalau dilihat dari sisi beban negara memang sah-sah aja kalau ada yang berpendapat biaya bunga utang kita kegedean, tapi dari dari sisi investor seperti kita kenapa bukan kita saja yang maksimalin potensi keuntungan ini. Daripada SBN kita terus-terusan diborong habis investor asing dan mereka yang mencium harum bunganya, kenapa sih bukan kita saja? Ini kan negara kita juga.

Dari sisi budgetair Negara pun akan lebih diuntungkan apabila SBN dibeli oleh Warga Negaranya sendiri. Istilahnya, Utang Dalam Negeri. Kenapa? Karena Warga Negara akan berkontribusi menyumbang pendapatan Pajak Negara, logikanya begini, penghasilan Warga Negara meningkat karena imbal hasil dari SBN, maka Pajak Penghasilannya yang harus ia bayarkan juga akan meningkat, selain itu karena adanya tambahan penghasilan maka akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsinya, peningkatan pada konsumsi sama artinya dengan peningkatan pada penerimaan di sektor Pajak Konsumsi, di Indonesia biasa disebut PPN. 

Win-Win Solution.

Sekian bahasan kita kali ini, silahkan kalau teman-teman ada opini-opini yang mau ditambahkan atau bahkan kritikan. Di-share juga ke setiap media sosial teman-teman, ke grup WA-nya juga boleh. Sampai jumpa lagi!
Share on Google Plus

About Yudha Basuki

Penulis yang merupakan alumni Administrasi Perpajakan dan Manajemen Keuangan dari Universitas Indonesia ini mendambakan Indonesia mampu menjadi Negara yang tidak hanya besar secara makro namun juga mampu mengakomodir keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bersedia diajak berdiskusi via email yubas@alumni.ui.ac.id