![]() |
| Jenderal Besar Sudirman |
“Jenderal, turunkan tanganmu!
Apa yang kau hormati siang dan malam itu?
Apa karena mereka yang di depanmu itu memakai roda empat?
Tidak semua dari mereka pantas kau hormati, turunkan tanganmu Jenderal!
Turunkan tanganmu, Jenderal!
Turunkan tanganmu, Jenderal!
Turunkan tanganmu, Jenderal!”
Sore itu, tepatnya hari Selasa, monolog tokoh Nagabonar kepada patung Jenderal Besar Sudirman seketika mengiang-ngiang di kepalanya. Pemuda ini benar-benar meresapi betul adegan film itu. Sebetulnya tak ada yang spesial dari pemuda ini, ia seperti pemuda-pemuda lainnya di Jakarta. Umurnya 24 tahun, berpenampilan rapi--meski tidak setampan Rangga--ya cukupanlah, berpenghasilan--meski tidak besar--ya cukupanlah, punya pacar yang tak hanya cantik tapi baik hati pula. Sepertinya tidak ada yang salah dari hidup si pemuda.
Tapi sore itu, air matanya tumpah. Mberebes mili.
Diawali ketika ia membeli beberapa pak tisu dari seorang Nenek yang berjualan bersama cucunya. Si Nenek berjualan di trotoar yang dipugar pemerintah menjadi layaknya di negara-negara maju sana, tepatnya si nenek berjualan di antara Gedung Menara Kaspen dan Bank Negara Ini 46. Dekat sekali dengan patung Jenderal Sudirman, di seberang kiri sang Jenderal.
Entah kesambet apa dan bagaimana, hati si pemuda tercekat. Melihat sosok Jenderal Sudirman sekaligus Nenek si penjual tisu.
“Ini pasti bukan Indonesia yang dicita-citakan oleh Jenderal Sudirman.”
Sebagai lulusan sarjana ekonomi dari UDIN, nama kampus terbaik Negeri ini yang diplesetkan oleh penulis kondang J.S. Khairen, si pemuda tentu menolak jika ketimpangan yang terjadi dilimpahkan begitu saja menjadi dosa para pemodal. Bagaimanapun, ia tahu persis, berkat pemodal-lah ekonomi Negeri ini berjalan positif hingga hari ini, setidaknya secara makro. Ia tahu persis, berkat pemodal-lah, banyak lapangan pekerjaan tercipta. Ia tahu persis, berkat pemodal-lah, ia bisa dapat pekerjaan. Ia tahu persis, berkat pemodal-lah, ia bisa naik MRT yang begitu nyamannya.
Dia menangis tidak dengan menyalahkan siapapun atas kondisi Negerinya hari ini. Dia tidak dalam posisi menyalahkan para pemimpin yang sibuk berebut kursi hingga sidangnya menutupi jalan umum, bukan pula protes dengan pemimpin pilihannya yang kini lebih sibuk kesana-kemari mengobral jabatan Menteri. Si pemuda menangis dalam keadaan menyalahkan dirinya sendiri.
Ia ingat betul kondisinya 16 tahun silam.
Saat-saat ketika Ia protes pada Ibunya karena berutang di tukang sayur setelah mendengar dari gurunya bahwa berutang adalah perbuatan tidak baik dan memalukan. Padahal tentu saja sang Ibu tidak mau berutang, tapi mau bagaimana lagi, gaji PNS rendahan kala itu memang mengharuskan sang Ibu berbuat demikian, demi sekeluarga agar bisa makan setiap hari. Beberapa tahun belakangan baru si pemuda mengetahui bahwa akibat protesnya kala itu, membuat Ibunda begitu sedih hingga menangis setiap malam. Belum lagi kenangan ketika sang ayah yang pensiunan tentara pangkat bawah itu mendapatkan surat pengusiran dari rumah dinas, yang membuatnya harus menumpang hidup kesana kemari. Tanpa pernah punya alamat yang jelas.
Hidupnya mungkin memang tidak pernah sesusah si Nenek penjual tisu dan cucunya, tapi nostalgianya pada masa lalu membuat ia seketika ingat pernah berjanji pada sang Ibu.
“Aku janji Bu, akan belajar dengan serius.
Tidak akan main-main seperti anak lain.
Aku janji akan mengubah nasib keluarga kita.
Biar gak lagi dihina-hina saudara, dijauhin saudara.
Aku juga mau nanti mau bikin bisnis, yayasan, atau apapun lah!
Yang bisa bantu banyak orang-orang gak punya.
Buka lapangan kerja buat mereka-mereka.
Nanti setelah aku lulus kuliah.”
Si pemuda kini melihat dirinya saat ini. Tangan kanannya memegang segelas es kopi catatan mantan, dan tisu-tisu yang dibelinya tadi di tangan kiri. Bagaimana kemudian ia begitu merasa bersalah pada janjinya ketika tisu-tisu yang ia beli beberapa pak itu tetap tidak lebih mahal dari es kopi yang ia beli. Bagaimana mungkin ia dulu sanggup berjanji membela orang miskin, sedangkan kini ia asyik-asyikan nyeruput kopi kafe.
“Kopinya jangan ditaruh di bawah mas, kopi mahal begitu. Taruh saja di sini”, si Nenek menunjuk tumpukan tisu-tisu dalam dus yang dijualnya, ketika si pemuda meletakkan kopinya di trotoar dan hendak mengambil dompet untuk membayar.
Delapan belas ribu harga es kopi bagi si pemuda kini tidak mahal, tapi ucapan “kopi mahal” dari si Nenek benar-benar menamparnya sepanjang perjalanan pulangnya di KRL menuju Kota Kepok. Bukannya tidak sadar, beberapa penumpang yang sama-sama pulang kerja tentu saja melihat pemuda dengan berat badan 74 kilogram itu sesunggukan gak karuan, peduli amat muka ditutupin masker ini. Pikirnya.
Kini sebab menangisnya tidak hanya karena melihat ketimpangan di protokol Ibukota, si pemuda kini takut tak dapat menunaikan janjinya pada sang Ibu, mengingat usia Ibunda yang sudah semakin tua. Ia juga semakin takut, bahkan setelah menyelesaikan studi S2nya ke negeri kincir angin nanti, ia tak sanggup berbuat apa-apa dan hanya akan kembali menjadi budak para pemodal yang menghamba pada uang.
Sungguh, si pemuda benar-benar takut.
Semoga Tuhan YME menguatkannya.
Amien.
